Frekuensi Gelombang Epsilon Mempengaruhi Tingkat Kebahagiaan Seseorang


Otak manusia menghasilkan implus atau aliran listrik yang dikenal dengan istilah gelombang otak. Frekuensi gelombang otak menentukan jenis-jenis gelombang otak, mulai dari gamma, beta, alpha, theta, dan delta. Jenis gelombang tersebut yang menentukan tingkat kesadaran seseorang pada suatu kondisi.
Gelombang otak dapat diketahui menggunakan peralatan medis, diantaranya EEG (electroencephalogram) dan Brain Mapping. Alat tersebut biasa digunakan di rumah sakit, laboratorium, maupun pusat penelitian aktivitas otak manusia. EEG berfungsi untuk memeriksa gelombang otak, frekuensi, dan sinyal yang akan dikelompokkan ke dalam beberapa kondisi kesadaran. Sedangkan Brain Mapping digunakan untuk memeriksa kondisi fisik otak berkaitan dengan adanya gangguan, kecacatan, atau kerusakan pada otak, misalnya tumor otak maupun kanker otak.

Frekuensi otak berubah sesuai kondisi pikiran dan fisik
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli, menyatakan bahwa frekuensi otak manusia berbeda-beda. Hal ini berlaku pada setiap fase, mulai dari fase sadar, rileks, tidur (tidur ringan dan tidur nyenyak), panik, dan sebagainya. Perbedaan frekuensi otak manusia tergantung pada kondisi pikiran dan fisik setiap orang.
Frekuensi gelombang otak atau yang biasa dikenal dengan sebutan Brainwave akan mempengaruhi kondisi pikiran dan fisik seseorang. Berikut penjelasannya:

  1. Gelombang Gamma
Gelombang gama merupakan gelombang otak yang memiliki frekuensi 16 hz – 100 hz. Gelombang ini terjadi saat manusia sedang melakukan aktivitas mental yang tinggi. Misalnya: menghadapi pertandingan dan tampil di depan umum, dalam kondisi tersebut biasanya seseorang kerap dilanda perasaan panik dan takut.
Kondisi di atas yang akan meningkatkan frekuensi gelombang otak. Peningkatan frekuensi gelombang otak pada setiap orang berbeda-beda, tergantung tingkat kepanikan seseorang. Dapat dikatakan bahwa gelombang gamma terjadi saat seseorang dalam kondisi kesadaran yang penuh.

  1. Gelombang Beta
Gelombang beta memiliki frekuensi di atas 12 hz atau sekitar 12 hz – 19 hz. Gelombang beta terjadi saat Anda melakukan aktivitas mental terjaga penuh. Misalnya: melakukan aktivitas sehari-hari yang menjadi kebiasaan atau saat berinteraksi dengan rekan dekat Anda. Gelombang beta ini diperlukan otak untuk berpikir rasional hingga mencari solusi pemecahan masalah.

  1. Gelombang Alpha
Gelombang alpha terjadi saat seseorang sedang dalam kondisi rileks, seperti istirahat. Gelombang ini mulai terbentuk ketika Anda menutup mata dan mulai mengantuk saat akan tidur. Atau bisa dikatakan pula, gelombang alpha terjadi pada masa peralihan antara fase sadar ke fase tidak sadar. Dalam kondisi ini bisanya dimanfaatkan oleh pakar kesehatan untuk memulai hypnosis dan memberikan sugesti pada pasiennya.

  1. Gelombang Theta
Gelombang theta terjadi saat seseorang masuk dalam fase tidur ringan atau ketika seseorang merasa sangat mengantuk. Orang yang sudah diambang tidur, akan menghasilkan gelombang tetha. Biasanya ketika seseorang sudah mencapai theta, ia akan mudah terlelap tidur.
  1. Gelombang Delta
Gelombang delta terjadi ketika seseorang dalam fase tidur lelap tanpa disertai mimpi. Saat itulah merupakan fase istirahat bagi tubuh dan juga pikiran. Tubuh akan melakukan proses penyembuhan diri dengan memperbaiki kerusakan jaringan dan regenerasi sel baru ketika Anda tertidur lelap. Delta adalah gelombang dengan frekuensi 1 hz - 4 hz dan merupakan gelombang terendah dari ke empat jenis gelombang lainnya.

Gelombang Epsilon mempengaruhi tingkat kebahagiaan
Berdasarkan penemuan baru oleh Dr. Jeffrey D. Thompson dibidang frekuesi dan brainwave ditemukan bahwa masih ada gelombang terendah dari gelombang delta. Gelombang tersebut dinamakan “Gelombang Epsilon” yang memiliki frekuensi 0.5 hz yang juga mempengaruhi aktivitas mental manusia.
Dari hasil peneilian Neuroacoustic research ditemukan pengaruh gelombang epsilon ini dengan fungsi otak, yaitu:
  • Peningkatan koordinasi aktivitas antara otak kanan dan otak kiri.
  • Terjadi pada kondisi meditasi yang hening.
  • Terjadi pada kondisi kesadaran bahagia.
Sehingga bisa disimpulkan bahwa semakin rendah frekuensi gelombang otak manusia, semakin tenang, hening, dan bahagia pikiran seseorang. Frekuensi otak yang semakin rendah juga akan membuat pikiran semakin jernih, memiliki banyak ide, dan tingkat strees menurun karena rasa tenang dan bahagia. Sebaliknya, semakin tinggi frekuensi gelombang otak, maka semakin tinggi tingkat stress seseorang.

Menciptakan gelombang epsilon dengan kata-kata positif
Pernahkan Anda mendengar bahwa kata-kata positif dapat mempengaruhi kondisi suatu benda? Seperti eksperimen yang dilakukan oleh Masaru Emoto terhadap suatu benda yaitu “Kristal Air”. Ketika itu Masaru Emoto berkata positif kepada Kristal yang dijadikan bahan percobaan. Kristal tersebut memberikan reaksi positif dan membentuk benda yang indah, sedangkan ketika beliau mengeluarkan kata-kata negatif, Kristal tersebut memberikan reaksi yang negatif pula yaitu hancur.
Dari hasil percobaan tersebut, Masaru Emoto menyimpulkan bahwa pemberian kata-kata negatif atau positif akan mempengaruhi respon suatu benda. Hal ini ternyata juga berlaku juga pada tubuh manusia. Kita ketahui bahwa hampir sebagian besar tubuh kita atau sekitar 70% tubuh manusia terdiri dari  air. Seperti percobaan yang dilakukan pada Kristal Air dengan memberikan kata-kata positif dan negatif, begitu pula yang akan terjadi pada tubuh manusia.
Ketika Anda memasukkan kata-kata positif dalam diri Anda, tubuh akan beraksi positif. Sedangkan ketika Anda memberikan kata-kata negatif, maka tubuh juga memberikan reaksi yang negatif. Ketika otak Anda mendapatkan dan mengingat kata-kata negatif, frekuensi gelombang otak akan meningkat. Sebaliknya, ketika Anda mengingat kata-kata positif dalam pikiran, maka frekuensi gelombang otak akan menurun.
Seperti di tuliskan di atas bahwa “semakin rendah frekuensi gelombang otak, maka pikiran akan semakin tenang, damai, dan bahagia”. Ketika gelombang otak manusia menurun hingga mencapai epsilon, maka pikiran akan lebih tenang dan damai. Pikiran yang damai dan tenang akan membuat seseorang lebih bahagia.
Dapat disimpulkan bahwa setiap orang dapat mencapai gelombang epsilon secara bertahap dengan cara memasukkan hal-hal positif dalam pikiran. Misalnya dengan mendengarkan doa, melantunkan lagu bermakna positif, mendengarkan motivasi, dan mengucapkan hal positif dalam dirinya sendiri, termasuk ucapan bersyukur.

Berhati-hatilah dalam memilih kata
Sekarang kita tahu, bahwa kata-kata yang kita ucapkan atau dengarkan dapat mempengaruhi gelombang otak kita. Gelombang otak tersebutlah yang akhirnya akan berpengaruh pada pikiran dan tingkat kebahagiaan kita. Kata-kata yang buruk dapat membuat Anda bahkan orang lain sakit. Sedangkan kata-kata positif yang Anda ucapkan dapat mendorong kebahagiaan diri Anda sendiri maupun orang lain.
Jika Anda ingin bahagia, berhati-hatilah dalam memilih kata-kata yang ingin Anda ucapkan. Masukkan kata-kata positif dalam otak dan mengingatnya setiap saat. Kata-kata positif akan tertanam dalam ingatan dan bisa mengondisikan otak mencapai gelombang epsilon yang akan membuat Anda merasakan kondisi kebahagiaan.

Demikianlah penjelasan mengenai gelombang epsilon, gelombang otak yang membuat seseorang merasa tenang, damai dan bahagia. Ciptakan kebahagiaan Anda dengan mengondisikan pikiran mengingat hal-hal yang membahagiakan. Semoga informasi di atas bermanfaat.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Frekuensi Gelombang Epsilon Mempengaruhi Tingkat Kebahagiaan Seseorang"

Posting Komentar